Jendoyle Design

Jendela Dunia Informasi

Berfikir Cerdas Di Era Politis Indonesia

Kalau mendukung ya mendukung saja, nggak usah berlebihan. Ndukung Capres kayak mendukung Tuhan. Tuhan diajak kampanye. Kampanye pakai dalil. Yang beda dengan pilihannya ditakut-takuti neraka. Tuhan dicitrakan sebagai monster yang kejam tanpa ampun. Memangnya Tuhan itu T-Rex?

Kalau berpolitik membuat ‘kesurupan’, mending nggak usah politik-politikan. Tentu saja ini konteksnya politik yang terjadi di endonesyah sekarang , bukan politik dalam pengertian yang luas (nggak usah dijelaskan harusnya paham).

Gara-gara politik, rakyat jadi nggak rukun. Menurut Gus Mus, Itu terjadi karena mereka nggak pakai kacamata manusia. Yang dipakai kacamata parpol, kacamata agama, kacamata Ormas dan kacamata-kacamata yang lain. Jadi kalau lihat orang lain yang beda dengan agamanya, Ormasnya, partainya, Capresnya, pasti tidak dipandang sebagai manusia. Pilihannya beda dikafir-kafirkan.

Cak Nun juga bilang, “Orang Endonesyah sekarang tidak berpikir Endonesyah”. Kalau sudah bikin partai, di otaknya hanya ada partainya. Padahal partai itu cuman alat (kendaraan), tujuannya untuk Endonesyah yang lebih baik. Sekarang ini Partai Biru hobinya menyerang Partai Merah, begitu juga sebaliknya. Partai Merah tepuk tangan kalau Partai Biru hancur, begitu sebaliknya. Sama-sama Endonesyah tapi saling menghancurkan. Remuk.

Di tahun politik ini, para badut politik bermunculan dimana-mana. Kerjanya bikin heboh, gaduh, untuk menarik perhatian. Bikin panas suasana. Pecahkan saja gelasnya biar ramai! Biar mengaduh sampai gaduh! Atau aku harus lari ke hutan. Belok ke pantai? Ndasmu. Malah mblakrak nang film “Ada Apa dengan Trisno”.

Di Medsos pun demikian. Para badut adu opini politik dengan sesama badut. Nggak cuman badut, di Medsos juga ada topeng monyet, jatilan, wong gendeng, lengkap. Aku mungkin juga termasuk badut Medsos. Tapi sori aku apolitis. Aku penonton, menggelar tikar jikalau para badut tawur membela junjungan politiknya. Kadang juga jadi kompor seperti sekarang ini. Jarno ae.

Ngomong soal badut, aku ini termasuk veteran badut (tapi tidak buka Jasa Badut Ultah). Di zaman kuliah juga sempat jadi badut. Artis kampus taek. Bergaya musisi, padahal gak paham musik. Sekarang juga begitu. Nulis opini gayane koyok pakar. Padahal asline ndlahom. Di umur 50 tahun nanti aku pasti malu membaca tulisan-tulisanku, “Kemeruh!”, “Sok yes!”. Tapi aku nggak ngurus, ini masaku, aku menikmatinya. Badut pasti berlalu.

Balik ke soal dukung mendukung.

Aku nggak paham dengan jenis orang yang melaknat orang lain hanya karena beda pilihan. Begitu rileksnya memposisikan dirinya malaikat. Sedangkan yang beda dengan pilihannya adalah setan. Sampai nggak sudi menguburkan kalau mati nanti.

Kupikir, bangkai, mayat atau jenazah itu tanggung jawab orang yang hidup (untuk menguburnya). Nggak perduli itu mayat anjing, babi, penjahat, koruptor, pemerkosa, pembunuh atau bajingan yang paling laknat sekalipun. Urusan dosa si mayat biar Tuhan yang ngurus.

Mayat itu masalahnya orang yang hidup, bukan masalahnya orang yang mati. Mau dikubur atau tidak, si mayat nggak bakalan protes. Mayat akan jadi masalah kalau nggak ada yang ngubur. Sudah bau, juga pasti akan jadi penyakit. Tapi kalau manusia beradab, bakalan nggak tega lihat mayat ditelantarkan begitu saja.

Aku yakin, kamu juga nggak bakalan bisa terus terang jika ditanya perihal tetanggamu yang mbeling di acara pemakamannya, “Saudara-saudara, apakah Gendu (yang meninggal) ini orang baik?” Jawabanmu pasti, “Iya, orang baik!” atau minimal diam. Nggak mungkin kamu njawab, “Dia buto terong bajingan!”

Cukup sekian nggedabrus kali ini. Robbi G